Lebih dari Sekadar Mandi Kembang, Ini Makna Mendalam Tradisi 'Blangiran' Khas Lampung Jelang Ramadan
INFOBDL.COM
... menit baca
Artikel ini telah diperbarui pada :
BANDAR LAMPUNG — Kalau ditanya apa persiapan menjelang bulan puasa, jawaban generasi sekarang mungkin nggak jauh-jauh dari hunting promo baju Lebaran di mal, atau mulai nge-list kafe hits di Bandar Lampung buat jadwal buka puasa bersama.
Tapi, coba deh geser sedikit dari hiruk-pikuk perkotaan. Di berbagai sudut Bumi Ruwa Jurai, ada satu tradisi leluhur yang auranya magis, wangi, dan penuh makna setiap kali hilal Ramadan makin dekat. Namanya: Blangiran.
Bagi masyarakat asli Lampung, menyambut bulan suci bukan cuma soal menyiapkan fisik untuk menahan lapar, tapi juga soal menyucikan jiwa. Nah, Blangiran ini adalah "simbol" dari proses glowing secara spiritual tersebut.
Mandi yang Bukan Sembarang Mandi
Secara harfiah, Blangiran berasal dari kata "langir", yang merujuk pada bahan pembersih alami menyerupai sampo atau sabun zaman old. Ritual ini pada dasarnya adalah tradisi mandi bersama di sungai, mata air, atau pemandian umum.
Eits, tapi jangan bayangkan mandinya pakai sabun cair aroma strawberry. Air yang digunakan untuk Blangiran diracik khusus. Biasanya terdiri dari campuran air bersih, kembang tujuh rupa (seperti mawar, melati, dan kenanga), irisan daun pandan, serta perasan jeruk nipis. Kebayang kan perpaduan aroma segar dan wanginya?
Jeruk nipis dipercaya mampu mengangkat kotoran fisik, sementara keharuman kembang dan pandan menjadi simbol dari niat yang harum dan tulus.
Filosofi 'Daki' Hati yang Harus Luntur
Di balik keseruannya berbasah-basahan, Blangiran punya kedalaman filosofi yang bikin mindblowing. Tradisi ini adalah manifestasi visual dari membuang kotoran batin.
Ibarat tubuh yang kotor oleh debu jalanan, hati manusia juga sering berdebu karena sifat iri, dengki, amarah, hingga kesombongan selama setahun ke belakang. Air langir yang diguyurkan dari ujung kepala hingga ujung kaki menyimbolkan harapan agar segala "daki" penyakit hati itu luntur terbawa arus air. Harapannya, saat sahur pertama nanti, jiwa dan raga sudah kembali ke setelan pabrik alias suci bersih.
Ajang Silaturahmi dan Pelestarian Budaya
Zaman dulu, ritual ini benar-benar dilakukan secara natural di sungai-sungai jernih kampung. Sekarang, meski sungai bersih makin sulit dicari, esensi Blangiran nggak lantas hilang.
Biasanya, momen ini justru berubah menjadi festival budaya dan ajang kumpul warga yang seru. Tempat-tempat wisata air atau sumber mata air bersejarah seperti Sumur Putri di Teluk Betung sering jadi lokasi favorit. Warga dari berbagai rentang usia turun ke air sambil tertawa, saling memaafkan, dan tentunya menjalin silaturahmi yang mungkin sempat renggang karena kesibukan kerja.
Pemerintah Provinsi Lampung sendiri belakangan ini juga sangat aktif menjadikan Blangiran sebagai agenda wisata budaya tahunan. Langkah ini cukup strategis untuk memastikan tradisi leluhur tidak tergerus zaman dan tetap relevan bagi anak muda. Di beberapa perhelatan, perayaan ini bahkan dikemas rapi dengan balutan tari-tarian adat dan doa bersama lintas tokoh agama.
Jadi, kalau tahun ini kamu berkesempatan ikut atau sekadar menonton prosesi Blangiran di Bandar Lampung, cobalah resapi maknanya. Ini bukan sekadar konten aesthetic buat diposting di Instagram, tapi reminder kuat dari leluhur kita: sebelum puasa membersihkan dosa, pastikan hati sudah bersih dari prasangka.
Sebelumnya
...
Berikutnya
...
