Jabatannya di Tongkrongan cukup Seram: Panglima Panitia Bukber
BANDAR LAMPUNG --- Jabatannya di Tongkrongan cukup Seram: Panglima Panitia Bukber. Dalam kasta sosial tongkrongan, gelar "jabatan paling seram" dengan beban mental tertinggi secara aklamasi jatuh kepada satu posisi: Panglima Panitia Bukber (Buka Bersama).
Masuk ke minggu ketiga Ramadan, tren horor ini mulai terasa nyata di aplikasi WhatsApp kita. Rencana bukber alumni SD, geng kampus, hingga divisi kantor yang niat awalnya murni untuk menyambung silaturahmi, perlahan berubah menjadi simulasi ujian kesabaran tingkat dewa bagi siapa pun yang berani mengambil "jabatan" tersebut.Secara sosiologis, mengumpulkan sepuluh orang dewasa muda dengan jadwal kerja, ego, dan isi dompet yang berbeda-beda adalah sebuah keajaiban jika berhasil. Dan di balik keajaiban itu, selalu ada satu atau dua orang pahlawan tanpa tanda jasa yang rela mengorbankan kewarasannya.
Tugas Panglima panitia bukber ini tidak main-main. Di minggu-minggu kritis seperti sekarang, hampir semua kafe dan resto estetik dari ujung Pahoman, Antasari, sampai Way Halim sudah fully booked. Mencari meja kosong untuk sepuluh orang tanpa reservasi berminggu-minggu sebelumnya ibarat mencari jarum di tumpukan jerami.
Selain menghadapi kerasnya sistem reservasi restoran, "jabatan paling seram" ini harus berhadapan dengan berbagai tipe manusia di dalam grup WhatsApp yang kadang bikin istighfar panjang. Mari kita bedah struktur organisasi dadakan ini. Kira-kira, kamu menyumbang peran yang mana?
1. Panglima Panitia Jalur Mandiri (Puncak Rantai Horor)
Ini adalah posisi paling ujung dari tren wacana bukber. Sang Panglima biasanya adalah orang yang dengan polosnya memulai percakapan di grup yang sudah mati suri setahun: "Eh, tahun ini kita nggak bukber nih?" Kalimat sakti itu adalah jebakan Batman. Begitu dia bertanya, otomatis dialah yang diangkat jadi seksi sibuk. Penderitaan sang Panglima dimulai saat dia melempar opsi tanggal, namun hanya dibalas dengan keheningan panjang atau sekadar di-read oleh 15 anggota grup lainnya. Dia harus punya mental baja untuk terus melakukan follow-up tanpa terlihat seperti sales asuransi.
2. Bendahara Merangkap Debt Collector
Kalau ada jabatan yang horornya nyaris menyamai sang panglima, itu adalah Sang Bendahara. Kafe-kafe di Bandar Lampung sekarang menerapkan aturan tegas: tidak ada uang muka (DP), tidak ada meja. Sang bendahara inilah yang harus nombok duluan atau mengemis meminta teman-temannya segera transfer.
Momen paling awkward dan bikin keringat dingin adalah saat harus menagih sisa pembayaran atau menagih DP ke teman sendiri. Meminta uang Rp 50.000 ke teman yang tiap hari update story nongkrong di coffee shop mahal tapi mendadak slow respon saat ditagih uang bukber, adalah definisi horor psikologis yang sebenarnya.
3. Pasukan 'Terserah' (Penyumbang Beban Mental)
Pasukan ini adalah villain (penjahat) sesungguhnya yang membuat jabatan panitia terasa sangat seram. Saat panglima bertanya ingin makan di mana, mereka dengan enteng menjawab: "Gue ngikut aja, terserah anak-anak."
Kata "terserah" adalah bentuk lepas tangan dari tanggung jawab. Ironisnya, ketika tempat sudah di-booking dan menu sudah dipesan, tipe "terserah" ini biasanya adalah orang pertama yang mengeluh di lokasi. "Kok tempatnya panas ya?" atau "Makanannya lama banget keluarnya." Kalau kamu punya teman tipe ini, mohon bersabar, ini ujian.
4. Seksi Kurasi Venue (Si Paling Update Skena)
Beruntunglah sebuah grup bukber jika memiliki karakter ini. Dia adalah orang yang tahu persis resto mana di Bandar Lampung yang punya musala luas, atau kafe mana di Enggal yang harganya tidak menguras kantong tapi masih pantas untuk latar foto OOTD.
Meskipun cerewet soal minimum spend (batas minimal pembelanjaan) dan layout meja, kehadiran Seksi Kurasi sangat membantu sang panglima untuk segera mengambil keputusan sebelum semua venue direbut oleh grup alumni sekolah lain.
5. Si Tukang Ghosting Berkedok Sibuk
Terakhir, karakter yang membuat grup WA terasa seperti rumah hantu. Dia tidak pernah membalas chat, tidak pernah ikut voting tanggal, tapi rutin melihat status WhatsApp teman-temannya. Menjelang hari H, dia bisa tiba-tiba muncul di lokasi tanpa dosa, atau sebaliknya, menghilang total dengan alasan klise "Sori Yay, ketiduran habis asar."
Pada akhirnya, di balik semua komedi dan drama "jabatan paling seram" ini, bukber adalah salah satu tradisi paling berharga untuk merawat kewarasan dan pertemanan di tengah sibuknya kehidupan dewasa.
Jadi, coba cek lagi grup WhatsApp-mu sekarang. Kalau kamu bukan panitianya, jadilah anggota grup yang kooperatif. Kurangi bilang "terserah", cepat balas polling penentuan tanggal, dan yang paling penting: segera transfer uang DP ke bendaharamu sebelum dia menangis di pojokan kamar!
