Self-Reflection di Pertengahan Ramadan: Diet Julid dan Detox Hati dari Jebakan Rasa Dengki
BANDAR LAMPUNG — Masuk minggu kedua Ramadan, biasanya perut kita sudah mulai bisa diajak kompromi. Alarm sahur tak lagi terasa seperti siksaan, dan menahan dahaga di tengah teriknya cuaca Bandar Lampung pada siang hari sudah jadi hal yang lumrah.
Secara fisik, tubuh kita terbukti sukses beradaptasi. Tapi, mari kita jujur-jujuran sejenak. Ada satu jenis puasa yang level kesulitannya jauh di atas menahan lapar dan haus: puasa lisan dan puasa hati.
Di era yang serba digital dan penuh ajang flexing (pamer) ini, ujian terberat kita bukan lagi godaan es pisang ijo yang lewat di timeline Instagram saat jam 12 siang. Ujian aslinya justru datang dari rasa insecure, iri, dengki, dan hasrat menggebu-gebu untuk julid mengomentari hidup orang lain.
Coba deh perhatikan siklus sosial kita belakangan ini. Ajakan bukber (buka bersama) mulai padat merayap. Nah, momen reuni yang niat awalnya murni menyambung silaturahmi ini, anehnya sering banget melenceng menjadi ajang adu pencapaian, atau yang paling parah: berubah jadi sesi ghibah (gosip) massal.
"Eh, lu tau nggak si A sekarang kerjanya di mana? Tapi kok mobilnya baru ya, cicilan kali tuh," celetuk salah satu teman saat kalian sedang menunggu azan magrib di sebuah kafe di bilangan Antasari. Familiar dengan skenario ini?
Secara psikologis, rasa dengki atau iri hati (hasad) itu muncul dari apa yang disebut sebagai perbandingan sosial (social comparison). Dan sialnya, media sosial zaman now bertindak layaknya kaca pembesar untuk semua perbandingan tersebut.
Kita membuka Instagram, melihat teman sekampus dulu sedang bukber mewah di hotel bintang lima. Buka TikTok, melihat sepupu pamer hampers Lebaran dari brand mahal. Tiba-tiba, tanpa sadar ada suara kecil di hati kita yang nyeletuk, "Kok hidup dia enak banget ya, padahal dulu IPK-nya di bawah gue."
Penyakit hati bernama dengki ini ibarat rayap. Dia tidak kelihatan, bekerja dalam senyap, tapi pelan-pelan menggerogoti tiang bangunan amal ibadah puasa kita sampai habis tak bersisa. Nabi Muhammad SAW bahkan pernah bersabda bahwa hasad itu memakan kebaikan selayaknya api yang melahap kayu bakar.
Kalau hati sudah terinfeksi virus dengki, biasanya lidah bakal otomatis gatal ingin julid. Dengki dan ghibah adalah 'bestie' sejati yang tidak bisa dipisahkan. Rasa tidak suka di hati akhirnya dilampiaskan lewat mulut untuk menjatuhkan reputasi orang tersebut di depan orang lain.
Mulut yang seharian dijaga dari makanan dan minuman yang halal, tiba-tiba "bocor" digunakan untuk mengunyah bangkai saudaranya sendiri (menjelekkan orang lain). Secara syariat fikih, puasamu mungkin tidak batal dan tidak perlu di-qadha. Tapi secara esensi? Nilai pahala puasamu hangus. Nol besar.
Diet Julid dan Detox Hati dari Jebakan Rasa Dengki
Lalu, bagaimana taktik mengeremnya? Apalagi kalau kita sedang berada di tongkrongan yang vibes-nya sudah mulai mengarah ke obrolan toxic. Tim infobdl.com punya beberapa taktik self-reflection yang bisa kamu praktikkan hari ini juga.
1. Acknowledge & Twist (Akui dan Putar Balik)
Pertama, sadari dan acknowledge perasaanmu. Kalau kamu merasa iri melihat pencapaian orang lain, akui itu di dalam hati. "Oke, gue iri melihat dia sukses." Setelah diakui, paksakan dirimu mengubah narasi itu menjadi doa. Alih-alih membatin nyinyir, doakan keberkahan untuknya. Ini berat luar biasa, tapi efeknya sangat ampuh untuk memadamkan "api" dengki di dada seketika.
2. Jangan Ragu Gunakan Fitur Mute
Demi menjaga kewarasan dan kebersihan hati di bulan puasa, men-senyap-kan (mute) akun orang-orang yang postingannya memicu rasa insecure di hatimu adalah tindakan preventif yang sangat wajar. Kamu tidak perlu unfollow apalagi memutus silaturahmi, kamu hanya sedang membatasi paparan trigger-nya sampai hatimu lebih stabil.
3. Kuasai Seni 'Membelokkan' Obrolan Tongkrongan
Kalau obrolan di meja bukber mulai masuk ke ranah ghibah membicarakan keburukan orang yang tidak hadir, jadilah "pemutus rantai". Kamu tidak perlu sok suci atau menceramahi mereka secara frontal. Cukup belokkan topiknya dengan elegan. "Eh, iya sih. Btw, ngomong-ngomong habis makan ini enaknya kita nyari kopi di mana nih? Ada rekomendasi tempat baru nggak?"
4. Perbanyak Grounding (Membumi)
Dengki terjadi karena kita selalu mendongak ke atas, melihat apa yang orang lain punya dan kita tidak. Sesekali, paksa matamu melihat ke bawah. Perbanyak interaksi dengan mereka yang kondisinya tak seberuntung kita. Melihat abang becak yang berbuka hanya dengan air mineral di pinggir jalan akan memunculkan rasa syukur yang menjadi penawar paling mujarab untuk penyakit dengki.
Ramadan pada dasarnya adalah training center selama 30 hari untuk melatih kecerdasan emosional dan spiritual. Menahan lapar itu mudah, anak SD yang baru belajar puasa pun bisa melakukannya. Tapi menjadi orang dewasa yang mampu mengendalikan lisan dan menjinakkan egonya? Itu butuh perjuangan level advance.
Mumpung masih ada waktu di bulan suci ini, yuk kita reset lagi niat dan hati kita. Jangan biarkan dahaga kita seharian di bawah terik matahari berakhir sia-sia hanya karena ketikan jari yang nyinyir atau lisan yang tajam. Tetap slay, tetap kalem, dan mari selesaikan puasa ini dengan hati yang benar-benar bersih!
