ObYRbHsSqgzBZuI04SOtu7icauKRhA6KpFA1ikVp
Bookmark

Seruit: Resep Andalan Untuk Menu Berbuka Puasa Bersama Keluarga

BANDAR LAMPUNG — Masuk minggu ketiga Ramadan, biasanya lidah kita mulai mengalami fase "krisis identitas" atau bosan kafe. Setelah belasan hari berturut-turut dihajar menu bukber ala western, makanan Korea, rice bowl kekinian, atau aneka pastry manis, perut dan lidah lokal kita diam-diam menjerit meminta comfort food.

Saat momen berbuka puasa di rumah bersama keluarga besar tiba, hidangan yang paling dirindukan nyatanya bukanlah steak daging wagyu atau pasta truffle. Kita merindukan menu rumahan yang sukses bikin kita kalap dan menambah porsi nasi putih berkali-kali tanpa rasa bersalah.

Bagi warga Bandar Lampung dan sekitarnya, jika bicara soal kasta tertinggi menu berbuka puasa yang merepresentasikan kehangatan keluarga, jawabannya cuma satu: Seruit.

Tapi tunggu dulu. Mari kita luruskan sebuah miskonsepsi yang sering terjadi di kalangan Gen Z atau pendatang. Seruit itu sejatinya bukanlah nama satu jenis makanan tunggal. Seruit berasal dari kata "nyeruit" yang merujuk pada sebuah kegiatan atau tradisi makan bersama.

Nyeruit adalah seni mencampur lauk pauk, sambal, dan lalapan ke dalam satu wadah besar, lalu dinikmati ramai-ramai. Dalam budaya masyarakat Lampung, tradisi ini melambangkan nilai kebersamaan, persaudaraan, dan kekerabatan yang sangat erat. Itulah mengapa seruit adalah menu yang paling pas disajikan saat anggota keluarga sedang kumpul lengkap di bulan puasa.

Nah, untuk menghadirkan tradisi nyeruit yang paripurna di meja makan setelah salat Magrib nanti, kita butuh racikan lauk dan sambal yang pas. Seruit yang sempurna adalah harmoni antara rasa pedas, asam, manis, dan gurih yang meledak di mulut.

Tim infobdl.com membedah anatomi resep andalannya untukmu. Siapkan catatannya!

1. Aktor Utama: Pemilihan Ikan Sungai

Elemen pertama dan paling krusial adalah ikan. Seruit sejati biasanya menggunakan ikan air tawar atau ikan sungai. Ikan baung, patin, tapah, atau belida adalah pilihan dengan kasta tertinggi. Kenapa harus ikan sungai? Karena dagingnya yang tebal, lembut, dan sedikit berlemak sangat cocok ketika di-smash (dihancurkan) membaur bersama sambal.

Ikan ini sebenarnya sah-sah saja digoreng kering, tapi versi paling autentik dan sangat direkomendasikan adalah dibakar. Lumuri ikan dengan bumbu kuning sederhana (bawang putih, kunyit, ketumbar, garam, dan sedikit perasan jeruk nipis) lalu bakar agar aroma smokey dari arang menempel di serat dagingnya.

2. Jantung Pertahanan: Sambal Terasi dan Rampai

Ini dia kunci magisnya. Sambal seruit bukanlah sambal bawang atau sambal tomat biasa. Komponen wajibnya adalah rampai (tomat kecil khas Lampung yang rasa asamnya segar banget), cabai merah keriting, cabai rawit caplak (sesuaikan dengan nyali lambung keluargamu), terasi bakar kualitas jempolan, garam, dan sedikit gula merah. Ulek kasar semua bahan ini di atas cobek besar.

3. Senjata Rahasia: Tempoyak atau Kweni

Nah, yang bikin sambal seruit Lampung beda dari daerah lain adalah tambahan unsur asam-manis yang pekat dan aromatik. Kamu wajib memasukkan tempoyak (fermentasi durian) ke dalam ulekan sambal tadi.

Kalau di keluargamu ada yang kurang suka dengan aroma tajam tempoyak, alternatif terbaiknya adalah menggunakan cacahan mangga kweni matang yang aromanya wangi semerbak. Pilih salah satu yang paling cocok dengan selera pasukan di rumah.

4. Pasukan Pendukung: Ekosistem Lalapan

Seruit tanpa lalapan itu ibarat sayur tanpa garam; hambar dan kurang tekstur. Siapkan piring besar khusus untuk menampung aneka dedaunan dan sayuran ini. Dalam nyeruit, lalapan terbagi menjadi dua faksi utama: tim mentahan dan tim rebusan.

Untuk tim rebusan, wajib siapkan daun singkong muda, terong bulat ungu yang dibakar lalu dikupas kulitnya, dan potongan labu siam. Sementara untuk tim mentahan, siapkan timun, kemangi, dan tentu saja... jengkol muda atau petai bakar untuk penambah damage selera makan!

5. Ritual Pencampuran (The Art of Mixing)

Di sinilah prosesi suci nyeruit dimulai. Jangan makan secara terpisah! Ambil daging ikan baung bakar tadi, suwir-suwir dan pastikan durinya sudah dibuang bersih, lalu masukkan langsung ke dalam cobek besar yang berisi sambal tempoyak/kweni.

Masukkan juga terong bakar yang sudah dikupas. Lalu, gunakan tangan (pastikan tangan ketua sukunya sudah dicuci bersih dengan sabun, ya!) untuk mengaduk, memijat, dan mencampur (di-kuwel-kuwel) daging ikan, terong, dan sambal menjadi satu kesatuan yang chaos tapi luar biasa nikmat.

Beberapa keluarga asli Lampung biasanya menambahkan sedikit air hangat atau beberapa sendok kuah pindang ikan ke dalam cobekan agar tekstur seruitnya menjadi sedikit nyemek (basah).

Saat azan magrib berkumandang, batalkan puasa dengan takjil manis secukupnya. Selesaikan salat Magrib, lalu gelar tikar di ruang tengah. Sajikan nasi putih hangat yang masih mengepul, letakkan cobek berisi seruit di tengah-tengah lingkaran keluarga, kelilingi dengan aneka lalapan, dan silakan bertarung memanjakan lidah.

Selamat nyeruit, Yay dan Atu! Dijamin, wacana diet puasa hari ini bakal batal total, tapi hati dan perut pasti bahagia maksimal.

Dengarkan
Pilih Suara
1x
* Mengubah pengaturan akan membuat artikel dibacakan ulang dari awal.
Posting Komentar